Hargailah hasil karya orang lain dengan tidak sembarangan menyalin isi postingan blog tanpa mencantumkan sumbernya. (Menyalin tanpa mencantumkan sumber adalah tindak kejahatan intelektual)

Sabtu, April 12, 2014

OPINI: Macam-Macam Tanggapan Soal Pesawat Kepresidenan RI


Langit Halim Perdana Kusuma Jakarta kehadiran “tamu” baru saat itu, tamu yang tidak lama setelah itu menjadi bagian dari pembuktian keperkasaan Indonesia di mata internasional. Begitu kira-kira yang diucapkan salah satu netter (pengguna internet) di sebuah media daring (online) terkait dengan kedatangan pesawat Boeing 737-800 Business Jet 2 Green yang sekarang menjadi pesawat kepresidenan RI.

            Kali ini yang dibahas (oleh saya pribadi) bukanlah benar atau tidaknya kita memiliki sebuah pesawat kepresidenan melainkan tulisan ini adalah kumpulan tanggapan-tanggapan terkait pengadaan pesawat kepresidenan RI berharga sekitar 847 miliar rupiah ini. Kumpulan atau dokumentasi dari berbagai sumber ini berusaha saya seimbangkan antara mendukung dan menentang.

      Tulisan ini juga akan berisi beberapa kutipan dari sumber-sumber di situs lain, akan saya masukan juga alamatnya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Beberapa dokumentasi seperti gambar, komentar dari para commenter akan saya masukkan juga karena itulah bahan saya menulis ini yaitu tanggapan. Mari kita bahas dengan santai, tanpa perdebatan. :)
          
Awal Mula

Kontroversi, kira-kira begitulah awal mula saya berusaha mencari dan mengumpulkan beberapa kutipan berita tentang si “biru” terbang ini. Saya sudah dapat memrediksi bahwa pengadaan pesawat kepresidenan RI ini akan menimbulkan beda pendapat antara yang setuju dengan yang tidak. Mungkin memang begitu adanya, kita tertarik untuk mengomentari dan menempatkan diri kita untuk sesuatu yang berhubungan dengan pergerakan negara ini, atau karena ada anggapan “uang itu sensitif, apalagi jumlahnya besar”. Mari kita mulai.

1.    Rencana Pembelian dan Tujuan Menghemat

Pesawat kepresidenan telah direncanakan untuk dibeli jauh-jauh hari. Pesawat RI 1 berjenis Boeing Bussiness Jet 2 Green Aircraft itu dibeli Indonesia seharga US$91,2 juta atau sekitar Rp820 miliar, dengan rincian: US$58,6 juta untuk badan pesawat, US$27 juta untuk interior kabin, US$4,5 juta untuk sistem keamanan, dan US$1,1 juta untuk biaya administrasi. Namun, jalan panjang sebelum pembelian pun ada, mulai dari perencanaan panjang di tahun 2012 hingga tahap pelunasan sekitar tahun 2013.
Mulai dari ketidaksetujuan LSM, hingga rencana pembatalan pun sempat berhembus, namun pesawat ini tetap dibeli dengan menggunakan APBN.

Tentu pembelian pesawat ini ada alasannya, yang paling vokal adalah untuk tujuan menghemat. Selama ini perjalanan Presiden di udara menggunakan jasa Garuda Indonesia (menyewa) dengan sistim pembayaran setahun. Berita terakhir dari Detik.com, Mensesneg Sudi Silalahi menyatakan perjalanan dinas presiden dengan pesawat kepresidenan ini dapat menghemat sekitar Rp 114,2 M/tahun.

Detail anggaran yang dihabiskan tidak berani dibuka baik oleh Mensesneg, atau Dirut Garuda Indonesia  Emirsyah Satar. Belakangan, ada berita bahwa Garuda merugi bila Presiden tidak lagi menyewa pesawat Garuda.
Berikut kutipan: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/287241-presiden-tak-sewa-pesawat--garuda-merugi

Emirsyah mengakui, jika pemerintah tidak lagi menyewa pesawat kepresidenan ke Garuda, akan berpengaruh pada pendapatan perseroan. Namun, ia menegaskan pengaruhnya dinilai kecil jika dibandingkan pendapatan yang diterima perseroan per tahunnya.

"Tapi pengaruhnya ada, pesawat yang harusnya kita bisa sewa, ya tidak disewa lagi, ya pasti berpengaruh," ujarnya.

Ketika ditanya apakah sewa pesawat kepresidenan mencapai US$200 juta pertahun, Emirsyah tidak menyangkal dan mengiyakan. Dia hanya mengatakan bahwa sistem penyewaan itu murni berbentuk bisnis semata.

Jadi, pembelian pesawat ini dianggap lebih menghemat ketimbang menyewa dari pihak Garuda.

2.    Soal Warna Badan Pesawat, Parpol, KTP, dan Keamanan

Kita santai sedikit dengan hal yang cukup ringan, manakala pesawat ini tiba di Halim Perdanakusuma, berbagai media ramai memberitakan tanpa terkecuali media online. Banyak yang memberitakan mulai dari fasilitas yang (katanya) mewah, hingga ke warna. Ya, warna pesawat kepresidenan RI adalah biru muda dengan potongan putih. Tidak sedikit yang menyamainya dengan “Air Force One” milik AS, tidak sedikit juga yang mengatakan pesawat ini mirip KTP Indonesia. Parahnya, ada saja commenter yang menghubung-hubungkan (menkonotasikan) warna pesawat ini dengan parpol milik Susilo Bambang Yudhoyono yang jelas-jelas warnanya berbeda.
          
            Untuk masalah warna, Mensesneg, Sudi Silalahi memiliki jawabannya tersendiri:
http://news.detik.com/read/2014/04/10/122510/2551075/10/kenapa-pesawat-kepresidenan-ri-berwarna-biru?n992204fksberitadsfdsf

Mensesneg Sudi Silalahi mengatakan, warna tersebut bukan ditentukan oleh Presiden SBY namun ada pertimbangan khusus dari desainer.

"Memang kenapa apa ada masalah dengan warna? Lagipula warna ini bukan pilihan Presiden untuk menentukan, kenapa biru, di sini ada desainer juga," kata Sudi usai upacara serah terima pesawat di Halim Perdanakusumah, Jaktim, Kamis (10/4/2014).

Menurut Sudi, faktor keamanan jadi salah isu yang mendasari pemilihan warna tersebut. "Warna biru di dalam arti security penerbangan. Warna biru bisa berkamuflase sehingga bisa sama dengan warna langit," ungkapnya.

Sejak awal, ada 14 alternatif warna yang diajukan pada pemerintah. Setelah dilakukan polling ke beberapa pejabat terkait, akhirnya dipilihlah desain tersebut.

Sebelumnya banyak orang-orang yang sudah menebak mengenai warna dari pesawat kepresidenan ini. Salah satunya gambar berikut:


 Jelas sekali bahwa identitas yang ingin ditonjolkan adalah merah dan putih sebagai identitas warna. Apapun itu, pasti ada alasan dibalik pemilihan warna biru langit tersebut.

3.    Akan Dipakai Jokowi


Seru, karena beberapa netter sekaligus commenter di berbagai media pada berita pesawat kepresidenan ini sudah seperti peramal yang mengatakan bahwa pesawat ini nanti akan dipakai oleh Jokowi. Terlebih hobi Jokowi yang sangat suka blusukan, maka pesawat ini akan membantu. Begitu ‘klaim’nya, menarik karena beberapa orang sudah sangat yakin bahwa Jokowi akan menjadi presiden dan mengesampingkan anggapan “Politik itu tidak bisa diprediksi” sekaligus seakan mendahului kehendak Yang Kuasa. Mari kita sikapi dengan bijak.

Tambahan: menyangkut poin soal warna, ada juga yang mengatakan di salah satu forum, “Jika Jokowi jadi presiden, kelak pesawat ini akan berubah menjadi merah”. Ada tanggapan? :)

4.    Tambahan Rasa Percaya Diri Indonesia

Masih berasal dari anggapan beberapa commenter di berita khusus ini, ada yang mengatakan Indonesia adalah negara besar (benar), dan dengan adanya pesawat ini Indonesia akan semakin dipandang oleh negara lain, karena presiden akan ‘membawa’ pesawat ini ke kunjungan kenegaraannya.

Namun mari kita lihat, kalau anggapannya seperti ini, bukankah ini jadi dua sisi mata uang. Jika memang Indonesia adalah benar-benar negara besar, tanpa pesawat pun kita sudah pasti dipandang di mata internasional. Betul? Toh, pesawat kepresidenan hanya sebagai simbol, yang menjadikan negara ini besar kan karena kita sendiri sebagai masyarakatnya. :)


5.    BOEING: Beli Lagi Satu!

Menarik ketika saya membaca salah satu berita dari situs Antara: http://www.antaranews.com/berita/428730/boeing-imbau-pemerintah-beli-lagi-pesawat-kepresidenan

Kutipannya adalah sebagai berikut:
Menurut Ralph Boyce, pesawat baru dari Boeing itu merupakan sarana transportasi yang menakjubkan untuk menghubungkan presiden dengan konstituennya di berbagai tempat.

Ya sudah barang tentu, ini adalah kata-kata promosi juga, karena kasarnya, Boeing adalah penjual dan kita pembeli. Promosi dilakukan agar kita memiliki pesawat kepresidenan lagi. Tapi saya rasa belum saatnya lagi, mengingat satu saja pesawat kepresidenan kita beli, tanggapannya sudah sangat banyak apalagi dua atau bahkan tiga?

Sedikit memberi info: Air Force One AS untuk presidennya disiapkan dua buah pesawat, satu untuk digunakan satu lagi untuk cadangan. Belum untuk Wapresnya.

6.    Interior: Antara Fungsi dan Sudut Pandang Kemewahan

Namanya barang ‘baru’ ya pasti menarik untuk dilihat dari berbagai sisi, terlebih ini adalah barang mahal. Banyak yang bilang, pesawat dengan fitur keamanan tinggi ini memiliki interior yang me(wah). Namun, mari kita lihat dari segi fungsinya juga, namanya juga pesawat kepresidenan, ya tentu apapun yang berada di dalam pesawat tersebut digunakan untuk mendukung kinerja presiden (seperti ruang rapat, dan meja kerja).
 

Cerita lagi datang dari Air Force One Amerika (maaf membandingkan dengan AS, karena kita harus terbuka bahwa kiblat pesawat kepresidenan ada di AS sana kan?), pesawat itu adalah ‘kantor terbang’nya presiden AS, jadi bukan sembarang kendaraan saja, presiden AS bisa membuat keputusan dan menurunkan perintah langsung dari atas pesawat. Bahkan Pesawat Boeing 747-200B berkelir biru muda itu disebut “The Flying White House” karena saking pentingnya pesawat itu untuk kinerja presiden.

Sekian.

Sekali lagi, itulah beberapa tanggapan-tanggapan yang saya saring dan ubah menjadi tulisan ini. Berawal dari antusias saya mengikuti berita kepemilikan pesawat kepresidenan oleh Indonesia saya pun tertarik mengikuti perkembangannya hingga kini.

Permohonan maaf saya apabila ada informasi yang salah dan ditulis disini, bukan semata-mata karena sengaja, tapi karena saya hanya berusaha belajar mengomentari sesuatu dari sudut pandang biasa.

Intinya, apapun pendapat Anda, setuju atau tidak dengan hadirnya pesawat ini, semua kembali kepada pendapat pribadi Anda, kita sebagai masyarakat Indonesia hanya berdoa mudah-mudahan hadirnya pesawat ini membawa dampak baik bagi kinerja Presiden RI untuk kemajuan bangsa juga kan?

Artikel ini bisa anda baca di:  http://regional.kompasiana.com/2014/04/12/opini-macam-macam-tanggapan-soal-pesawat-kepresidenan-ri-647124.html

Jumat, Maret 28, 2014

Diploma Vespa Community, Ketika Vespa Masuk Kampus


Bogor – Melihat kelompok motor di jalan, itu mungkin sudah biasa. Tapi, bagaimana jika kelompok pecinta motor aktif di dalam kampus? Itulah DVC, atau Diploma Vespa Community.

DVC adalah komunitas pecinta motor Vespa yang berada di Program Diploma Institut Pertanian Bogor. Dibentuk sejak tahun 2012 dari sekedar kumpul-kumpul pecinta Vespa, komunitas ini terbentuk hingga memiliki anggota berjumlah 40 orang yang terdiri dari berbagai program keahlian di kampus.

Komunitas ini erat dengan prinsip persaudaraan, ini merupakan prinsip utama yang terus dipegang tidak hanya bagi DVC, melainkan bagi pengguna Vespa lainnya.

“Sesama (pengguna) Vespa suka ngebantu kadang kalo misalkan Vespa lain mogok di jalan, kita berhenti buat bantu” cerita Hasyim anggota DVC.

Kebiasaan unik di kampus diterapkan oleh para anggota DVC, salah satunya parkir secara bersama dan rapi di salah satu sudut lapangan parkir. Vespa sendiri memiliki banyak keunikan bagi anggota kelompok ini, diantaranya tidak pernah ada sebutan “motor tua” bagi motor Vespa. Pengendaranya pun merasa santai dan merasakan hal-hal positif saat mengendarai Vespa.
Vespa berjejer di sudut tempat parkir
Bukan tanpa maksud, parkir bersama ini untuk mengingatkan para pemotor lain agar parkir dengan rapi di lahan yang telah disediakan. Ditanya soal awal terbentuk, Hasyim punya cerita sendiri. Proses perekrutan para anggota dimulai dengan menyebarkan undangan dengan meletakkannya di atas motor Vespa yang terparkir. Undangan tersebut berisi ajakan untuk parkir ‘bareng’, atau acara kumpul rutin setiap Minggunya.

“selain kumpul sih, kadang juga touring, ketemu komunitas, sama bakti sosial kayak bersih sungai” jelas Hasyim.

Anggota Diploma Vespa Community
Selain menyatukan pecinta Vespa dalam satu wadah, komunitas yang akan segera menjadi Lembaga Kemahasiswaan (LK) ini menjunjung tinggi tali persaudaraan serta sikap santai dan positif saat berkumpul.
Melihat dari sisi fisik Vespa sendiri, diakui anggota DVC ada bagian yang memang sering mengalami kerusakan, yaitu di bagian businya.

Jenisnya pun beragam, ada yang khusus race, aliran klasik, retro, modern atau model biasa yang tidak dimodifikasi.

Berada di lingkungan kampus, membuat komunitas ini menjadi perhatian tidak hanya bagi mahasiswa melainkan juga bagi dosen-dosen yang juga parkir di area yang sama. Bahkan, menurut Hasyim, ada seorang dosen yang tertarik untuk ikut bergabung dengan membeli sebuah Vespa.

Komunitas ini pun mendapat tanggapan positif dari ‘saudara’nya di IPB Kampus Dramaga, tempat para mahasiswa sarjana berkuliah. Namun ketika ditanya apakah akan bergabung dan menjadi satu nama, DVC tetap yakin akan menjadi satu komunitas Vespa bagi Diploma IPB saja.


“Kalo gabung atas nama IPB sih iya, kita keluarga, tapi tetep ya kita Diploma Vespa Community, gak akan ubah nama” tutup Hasyim. (ANH)

Gereja Zebaoth Bogor, Gerejanya Gubernur Jenderal Belanda Terdahulu


Setiap bangunan di Kota Bogor pasti memiliki sejarah, mengingat kota yang dijuluki ‘Buitenzorg’ pada zaman dulu ini adalah saksi peninggalan perkembangan di zaman Belanda. Pun begitu dengan GBIP Zebaoth yang terletak di lingkungan Istana Bogor, Jawa Barat.


Sisi dalam Gereja Zebaoth
Kepala Pendeta Zebaoth, J.V.Charles Timbulen menyatakan, gereja yang dibangun hampir 100 tahun lalu ini adalah gereja tempat para gubernur jenderal terdahulu beribadah.

“Kalau gereja untuk rakyat biasa di zaman Belanda, itu mereka ada di gedung yang sekarang jadi kantor pos. Zebaoth inilah tempatnya para Gubernur Jenderal beribadah” jelas Pendeta yang ditemui di kantor gerejanya ini.
Pintu masuk bertuliskan "Zebaoth"
Kabarnya, kedekatan lokasi gereja dengan istana negara ini menyebabkan jumlah jemaat begitu banyak, sehingga menjadikan Gereja Zebaoth sebagai gereja dengan jemaat terbanyak di Kota Bogor.

Hal unik lainnya diungkapkan Pendeta Charles mengenai adanya terowongan bawah tanah yang menghubungkan antara Istana Bogor dengan gereja yang dijuluki ‘gereja ayam’ ini.
Sisi samping Gereja Zebaoth
“Di sini ada terowongan, dulu untuk akses ke sini, tapi sekarang sudah ditutup” terang Charles.
Selain sebagai tempat ibadah, Gereja Zebaoth juga melayani pengasuhan untuk anak-anak yang bernama ‘Bina Harapan’ dan ‘Panti Werda’ untuk para lansia. 



Bahkan, gereja ini memiliki sebuah klinik untuk pelayanan masyarakat. (ANH)

Senin, Maret 10, 2014

Kreasi CorelDraw: Huruf Bermotifkan Gambar menggunakan PowerClip



Sederhana tapi menarik bukan? Cara ini digunakan sebagai perpaduan untuk menghasilkan gambar yang menarik. Bahkan, beberapa produsen rokok menggunakan cara ini untuk iklan di billboard.

Mari kita beri judul tutorial CorelDraw ini dengan: Huruf Bermotif Gambar. Konsepnya adalah: mengganti warna dasar (polos) dari sebuah huruf menjadi gambar.

Langkah-langkahnya:

Silahkan buka CorelDraw Anda, versi berapapun.

1. Siapkan sebuah huruf menggunakan text tool terlebih dulu untuk latihan.

Buatlah sebuah huruf menggunakan "text tool", misalnya huruf: R. Setelah itu, klik kanan dan pilih "Convert to curves" atau Ctrl + Q.

"Convert to Curves"
2. Siapkan gambar yang menjadi latar belakangnya.

Setelah huruf yang Anda ubah menjadi curves telah siap, masukkan gambar lain yang akan menjadi latar huruf tersebut. Bisa dengan cara mengimportnya (Ctrl + I) atau cukup Copy dan Paste dari sumber di internet. Contoh ini menggunakan gambar seorang perempuan, sayang belakang dari gambar tersebut berwarna putih sehingga nantinya huruf R tadi kurang terlihat bentuknya.


Pindahkan gambar yang menjadi latar tersebut ke belakang huruf tadi, caranya tekan " Ctrl + Page Down" di keyboard anda. Sesuaikan letak gambar tadi agar menjadi menarik.

3. [KUNCINYA] Aplikasikan effectnya dengan fitur Powerclip

Block kedua objek tadi (huruf dengan gambar) lalu pilih Effects,  PowerClip, pilih Place inside container.
Setelah itu, akan muncul anak panah sebagai tanda bahwa anda harus memilih letak tempat gambar tersebut akan dimasukkan. Langsung saja klik ke huruf tadi, sehingga hasilnya akan seperti:


Tambahan: Mungkin garis pada huruf tersebut sedikit tipis, anda bisa menkreasikannya dengan menebalkan garis pada huruf tersebut atau memberikannya bayangan.

Beberapa contohnya seperti:



Demikianlah, selamat mencoba, semoga bermanfaat dan teruslah berkreasi.

Kamis, Februari 06, 2014

Nostalgia Facebook ala Facebook Lookback


JAKARTA - 4 Februari 2014 yang lalu, Facebook genap berusia 10 tahun. Angka ini bukan lagi terbilang kecil, karena saat ini saja Facebook sudah menjadi salah satu perusahaa raksasa dunia di bidang teknologi. Pun begitu dengan fungsinya, saat ini Facebook bukan lagi sebatas sebagai 'alat' komunikasi dan berinteraksi, melainkan juga sebagai media untuk menjadikan pribadi seseorang menjadi lebih besar dan dikenal. Kita ambil contoh, Barack Obamma yang sudah dua kali memenangkan pemilihan  presiden dibantu oleh Facebook.

Foto, video, status atau catatan yang dibagikan di masing-masing profilnya menjadikan seorang pengguna bisa saja terkenal oleh karena Facebook. Fenomena yang terdekat saja, acara Hitam Putih yang sempat berhenti tayang, kini kembali disiarkan di Trans 7, setelah sempat banjir dukungan di Facebook untuk kembali menayangkannya. Masih banyak lagi bila kita hitung-hitung dampak positif dari hadirnya Facebook meski tidak menutup mata bahwa banyak juga hal-hal negatif yang muncul sejak kelahiran Facebook di dunia maya.

Terlepas dari itu, memeriahkan ulang tahun ke-10 Facebook, situs ini menghadirkan kenangan-kenangan penggunanya dari awal menggunakan facebook, hingga status paling disukai. Ingin tahu seperti apa? langsung saja menuju ke : https://www.facebook.com/lookback/ (alf)